Jumat, 12 Juni 2009

Stress

Pengertian Stres

Sebelum lebih jauh mengupas persoalan stres, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu dasar-dasar pengertian itu. Hai ini sangat berguna, selain agar pemahaman kita semakin lengkap, juga untuk menghindari kekeliruan-kekeliruan dalam penyebutan istilah. Paling tidak, dengan memahami istilah, kita tidak akan canggung lagi ketika menyebut istilah tersebut.
A. Asak kata
Kata Stres berasal dari kosakata bahasa Inggris. Menurut Kamus Oxford, stres memiliki paling tidaj enam pengertian, sesuai penggunaanya dibidang-bidang yang berbeda. Disana stres diterjemahkan sebagai; (1) tekanan atau kecemasan yang sisebabkan oleh masalah dalam kehidupan seseorang; (2) tekanan yang diberikan ke suatu benda yang bisa merusak benda itu atau menghilagkan bentuknya; (3) kepentingan khusus yang diarahkan kepada sesuatu; (4) suatu kekuatan ekstra yang dikerahkan ketika mengucapkan suatu kata khusus; (5) suatu kekuatan ekstra yang digunakan untuk membuat suara khusus dalam musik; (6) penyakit yang ditimbulkan oleh kondisi fisik yang terganggu(Oxford Advanced learner’s, hlm. 1286).
B.Spekulasi Makna
Stres sebagai istilah yang dikenal didunia psikologi dan kedokteran memiliki makna yang berbeda-beda, sesuai pandangan masing-masing pengamat.
Dalam sebuah buku disebutkan,”Stres telah lama menjadi subjek spekulasi bidang psikologi dan fisiologi. Sebenarnya, sering kata stres itu sendiri tidak jelas definisinya dan salah kaprah, yang bermakna berbeda bagi orang yang berbeda. Stres emosional, misalnya dapat muncul akibat pertengkaran rumah tangga atau kematina orang yang dicintai. Stres lingkungan, semacam terkena panas atau dingin yang berlebihan, merupakan fenomena yang berbeda sama sekali. Stres fisiologis digambarkan sebagai kelebihan hormon steroid yang berasal dari kelenjar adrenal.
Inilah teori yang dikembangkan oleh Dr. Hans Selye dari Montreal. Dia meyakini bahwa hormon-hormon itu sangat penting bagi kelangsungan hidup organisme dan secara sensitif merupakan indikator stres. Apa pun nama samaranya, definisi stres yang kurang tegas telah menghalangi dilakukannya riset tentang stres pada masa lalu (Herbert Benson, 2000: 72-73).
C. Keragaman Definisi
Dari berbagai sumber yang saya peroleh, terdapat keragaman stres. Namun jika diperhatikan secara seksama, definisi-definisi itu memiliki kemiripan satu sama lain. Disini saya sebutkan beberapa definisi stres dari sumber-sumber yang berbeda, yaitu sebagai berikut.
1. Pandangan Pakar Psikologi
Menurut beberapa pakar psikologi, stres didefinisikan sebagia: suatu kondisi fisik atau ketegangan mental yang menghasilkan perubahan dalam sistem saraf autonomik(Wolman, 1973); reaksi yang tidak khusus(nonspecific respons) dari tubuh terhadap berbagai tuntunan (Hans Selye, 1976); suatu keadaan yang dipengaruhi oleh gangguan mental atau emosional (Morst & Furst, 1979); reaksi tiba-tiba terhadap sekumpulan rangsangan yang berupa kejadian, objek, atau individu (Giardano & Everly,1986). Definisi-definisi ini disebutkan dalam salah satu materi dasar fisiologi, dengan topik “Tekanan(Stres)”, dipublikasi oleh situs unversitas Sabah Malaysia (UMS), dalam bahasa melayu.
2. Pandangan dari Praktisi
Hertbet Benson, penulis buku best seller, the Relaxation Response, menagtikan stres sebagai: kondisi linkungan yang memerlukan penyesuaian prilaku (Herbert Benson, 2000: 76). Dalam sebuah buku berjudul Stres Management techniques, stres diartikan sebagai: setiap sesuatu yang mempengaruhi dan meningkatkan derajat kecemasanmu (www.mindtools.com).
3. Penjelasan dari kalangan Industri
Dalam sebuah produk promosi sebuah obat anti stres, terdapat penjelasan sebagai berikut, “stres pada dasarnya adalah reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan. Stres akan muncul jika terjadi ketidakseimbangan antara kemampuan yang dimiliki seseorang dan berbagai tutunan yang ada. Setiap orang beraksi secara berbeda terhadap suatu perubahan dan mempunyai cara yang berbeda pula dalam mengatasinya” (www.nostresa.co.id).
Beberapa pendapat diatas saya kira cukup mewakili pengertian stres seperti yang diharapkan. Masing-masing pandangan mewakili tiga komunitas yang berbeda. Satu pihak mewakili pandangan dunia akademis, pihak lain mewakili pandangan para praktisi (penulis buku praktis), dan pihak terakhir mewakili kalangan industri farmsi yang memproduksi obat anti stres.
D. Menyimpulkan Makna
dari berbagai pandangan yang telah disampaikan dimuka, ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan, yaitu sebagai berikut.
1. stres dipicu oleh keadaan-keadaan yang menekan, baik dari unsur luar (misalnya kematian, konflik, cuaca) maupun dari dalam diri (misalnya derita penyakit).
2. Stres menimbulkan pengaruh ke dalam diri seseorang, baik berupa pengaruh fisik maupun kejiwaan, yang menggang kenyamanan hidupnya.
3. Stres berbeda dengan penayakit fisik pada umumnya, sebab itu melibatkan unsur-unsur penekan dan reaksi diri terhadap tekanan-tekanan itu.
Sampai disini kita temukan pengertian-pengertian yang masih samar. Apa hakikat stres itu? Apakah itu merupkan penyakit yang datang dari luar? Atau, ia merupakan penyakit yang datang dari dalam?
Jika stres merupakan penyakit dari luar, kita akan kesulitan menentukan sebaa-sebab penyakit tersebut. Penyebab stres banyak dan tidak setiap orang yang menemui sebab-sebab itu, lalu mengalami stres, jika stres disebut penyakit dari dalam, maka ia tidak muncul begitu saja, tanpa sebab, tanpa asal. Sampai disini, kita kesulitan menempatkan stres dalam posisi yang jelas.
Pada intinya, stres adalah reaksi seseorang terhadap setiap rangsangan yang mencemaskan dirinya. Reaksi itu bisa berupa penurunan kualitas fisik (fisiologi) atau penurunan kenyamanan perasaan (psikologis)
E. Tanda-Tanda Stres
dalam praktik, para penderita stres memperlihatkan perubahan-perubahan yang nyata, baik dari sisi emosi, pikiran, maupun fisik, bentuk-bentuk perubahan itu antara lain: perasaan tertekan, sulit berskap santai, selalu subjektif dalam menilai suatu masalah, ketakutan dan kecemasan terus-menerus, mengerjakan pekerjaan secara tergesa-gesa, kurang percaya diri terhadap lingkungan, takut mengahadapi kesulitan, ingin lari dari masalah, merasa selalu dalam konflik, frustasi dan depresi, susah tidur, mual dan merasa sakit lambung, nyeri didada, pusing-pusing, napas tersengal-sengal, kontipasi atau diare, sakit punggung, otot menegang, lemah atau lesu, mulut dan tenggorokan kering, serta berkeringat.
Secara sosial pun, perubahan itu tampak seseorang merasa kurang betah sendirian, atau sebaliknya, dia ingin selalu menyendiri. Dia kehilangan minat terhadap kesibukan-kesibukan. Dia menolak ajakan orang lain dengan alasan sibuk atau sedang banyak masalah. Prilakunya berubah-ubah, sulit untuk ditebak. Perubahan kebiasaan sering terjadi secara mencolok. Semula dirinya melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba berubah melakukan tindakan lain(www.nostresa.co.id).
Jika mencermati gejala-gejala diatas bisa jadi kita termasuk diantara orang-orang yang menderita stres. Ibarat sebuah jaring ia dibuat dengan lubang-lubang yang sangat halus sehingga menyulitkan ikan-ikan untuk lolos, termasuk ikan-ikan kecil. Dengan perincian gejala-gejala yang luas seperti itu, sulit bagi kita untuk selamat dari jeratan stres. Jika sewaktu-waktu kita merasa mual, pusing, diare, sakit punggung atau dada, tidak ada salahnya kita mulai mencurigai diri sendiri, boleh jadi saat itu kita sedang mendeita stres.
Apa pun kenyataanya, kita harus bersikap bijak. Kita jangan mendramatisasi masalah, seolah jika seorang menderita stres, saat itu juga riwayatnya tamat. Namun disisi lain, jangan pula kita meremehkan, seolah stres disamakan dengan gigitan nyamuk yang bisa sembuh dengan olesan balsam.
Stres baru menjadi masalah serius jika ia memicu munculnya berbgai kerusakan hidup, lahir-batin, dunia-akhirat. Misalnya, karena stres seseorang jatuh sakit, tubuhnya melemah, daya ingatnya merosot, mogok bekerja, meninggalkan tanggung jawab, dan lain-lain.
Begitu pula ketika stres kemudian mendorong seseorang berputus asa, melakukan perbuatan dosa, menempuh jalan penyimpangan, berbuat jahat, sadisme, kezaliman, dan sebagainya.
Semoga Allah memelihara kita dari segala keburukan hidup, menyelamatkan kita dari fitnah-fitnah yang menggelincirkan, serta menjauhkan kita dari musibah-musibah yang menggungcangkan hati. Allahumma amin
F.Peranan Islam
Dunia modern ditandai dengan capaian-capaian luar biasa di bidang teknologi, komunikasi, dan informasi. Dengan kemudahan itu manusia tidak lagi kesulitan untuk memperoleh ilmu dan wawasan. Seharusnya, dengan serana-sarana kemudahan yang ada, manusia modern bisa hidup lebih tentram, damai, dan sejahtera. Betapa tidak, setiap pengetahuan yang dibutuhkan untuk meraih impian itu mudah diperoleh. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ilmu pengetahuan semakin melimpah ruah, namun problem stres justru lebih melimpah dari itu.
Menurut data yang dikeluarkan oleh American Academy of Family Physicians, dua pertiga (66%,pen.) dari semua kunjungan dokter-dokter keluarga di Amerika, adalah untuk mengatasi stres (Don R. Powell, 2000: 255). Mengutip pernyataan dua orang pakar dari college of Medicine, Unversitas Illinois Amerika, yaitu A.M. Osfeld dan R.B.Shekelle bahwa: “Telah terjadi peningkatan cukup besar dalam ketidaknyamanan hubungan manusia karena manusia telah berpindah dari kehidupan yang relatif primitif dan lebih desa dari kehidupan kota dan industri” (Herbert Benson, 2000: 81).
Kemajuan dunia modern lebih terfokus pada kemajuan-kemajuan di bidang materi, sedang sektor sporitual manusia terabaikan. Realitas ini sangat terlihat dengan semakin banyaknya manusia-manusia yang bertubuh gemuk, melebihi kewajaran. Pada saat yang sama, orang-orang subur itu membawa potensi penyakit yang sangat banyak, mulai dari jantung, darah tinggi, diabetes, stroke, asam urat, dan lain-lain. Mustahil manusia akar mengejar kegemukan tubuh, jika sejak semula hatinya berada dalam ketentraman.
Dalam keadaan demikian, Islam merupakan konsep hidup (way of life) yang sangat ditunggu-tunggu peranannya dalam mengentaskan manusia dari keterpurukan spiritual akibat tekanan stres menuju kehidupan sejati. Islam bukan saja memiliki kekayaan ilmu pengetahuan yang melimpah, namun ia sudah membuktikan peran konstruktifnya dalam memberi rasa damai dan bahagia bagi umat manusia sejak lebih dari 1400 tahun silam.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki akan diberi-Nya hidayah, maka dia akan melapangkan dadanya kearah Islam. Dan barangsiapa yang Dia kehendaki akan disesatkan, Dia jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah jadikan siksa terhadap orang-orang yang tidak beriman.”
(al-An’aam[6]: 125)
Teringat sebuah ungkapan agung dari seorang sahabat radhiallahu ‘anhu, “Islam itu tinggi dan tidak ada lebih tinggi darinya.”
Wallahu a’lam bish-shawwab.

0 komentar: